Gue nangis nonton ulang klasik.
Bukan karena golnya. Bukan karena skill-nya. Tapi karena suaranya.
Kamu inget nggak? Gemuruh itu. Bukan cuma teriakan. Tapi getaran. Stadion bergoyang. 70 ribu pasang kaki injak tribun. Peluit wasit aja kadang nggak kedengeran.
Sekarang? Sepak bola tanpa penonton. Stadion megah, pencahayaan sempurna, siaran 4K. Tapi rasanya kayak nonton film horror tanpa suara. Ada yang hilang. Nggak, bukan hilang. Dicabut.
Sepak bola tanpa penonton bukan lagi olahraga. Dia telenovela tanpa dialog. Musik tanpa drum.
Apa Yang Hilang? Bukan Suara. Detak.
2020 kita masih bilang “sementara, kok.” Pakai kardus. Pakai suara rekaman. Pakai layar zoom di kursi. Kita tertawa. Kreatif, katanya.
Sekarang 2026. Kita nggak ketawa lagi.
Karena kita sadar: yang hilang bukan 70 ribu pasang suara. Yang hilang adalah 70 ribu detak jantung yang nyambung. Kamu teriak, orang di samping teriak, orang di tribun utara teriak, orang di rumah juga ikut teriak—nggak sinkron, nggak jelas, tapi bersama.
Itu detak jantung kolektif.
Sekarang jantung itu flatline.
Tiga Kesunyian yang Nggak Akan Kembali
1. Suporter Turki: Ağlama Duvarı (Tembok Tangis)
- Pertandingan Galatasaray-Fenerbahçe. Laga tanpa penonton gara-gara sanksi. Tapi di luar stadion, 30 ribu orang berkumpul. Nggak ada tiket. Nggak masuk. Cuma nempel telinga ke tembok beton stadion.
“Mereka dengerin. Bukan siaran. Tapi gempa dari dalam. Kayak dengerin rahim ibu,” kata Mehmet (39), suporter yang gue temui via DM Instagram.
Dia nangis cerita itu. Gue juga.
2. La Bombonera Senyap
Bocah 9 tahun di Buenos Aires. Sepatu bolanya bolong. Ayahnya bilang: “Dulu bokap gue bawa gue ke sini, gemuruhnya bikin kuping sakit. Itu enak.” Sekarang mereka berdiri di luar stadion yang kosong.
Bocah itu nggak pernah merasakan La Bombonera bergoyang.
Dia cuma lihat di YouTube.
Data fiktif tapi realistis: Federasi Sepak Bola Argentina mencatat penurunan 52% anak usia 8-14 tahun yang mendaftar akademi sejak 2022. “Mereka nggak lihat mimpi di stadion,” kata satu pelatih lokal. “Mimpi harusnya berisik.”
3. Suporter Tunarungu di GBK
Ini yang paling menghantam gue.
Komunitas suporter tunarungu, namanya Sora. Mereka nggak dengar nyanyian. Tapi mereka merasa nyanyian. Getaran tribun, tangan kompak, bendera naik turun.
Sekarang? Mereka duduk di rumah. Nonton tv diam.
“Gue nggak butuh suara. Gue butuh orang di samping gue.” – Raka (31), anggota Sora.
Sepak bola tanpa penonton itu diskriminasi diam-diam buat mereka. Karena buat Raka, nonton bareng di stadion adalah satu-satunya cara dia mendengar.
Common Mistakes: Yang Saya Pikir Benar Ternyata Nggak
1. “Penonton virtual bisa gantikan.”
Nggak. Gue pernah nyoba. Komentar “mantap” di chat stream itu beda. Beda banget. Kayak peluk pacar lewat bantal. Hangat? Nggak juga. Tapi lo pura-pura nyaman.
2. “Generasi baru nggak akan kangen karena nggak pernah ngerasain.”
Ini yang bahaya. Kita kira anak 2020-an nggak akan trauma karena mereka nggak kenal stadian rame. Tapi mereka justru tumbuh dengan norma kehilangan. Mereka pikir sepak bola emang TV doang.
Mereka nggak tahu apa yang mereka lewatkan. Dan itu lebih menyedihkan.
3. “Nostalgia itu cuma drama orang tua.”
Iya. Gue emang tua. Tapi coba tanya suporter Liverpool yang nonton final Champion League 2019 via handphone di kamar kos. Tanya mereka kangen apa nggak. Mereka bakal maki lo.
Kenapa 2026 Jadi Tahun Paling Sunyi?
Karena tahun ini kita berhenti berharap.
2021: “Tahun depan pasti normal.”
2023: “Oke mungkin 2025.”
2026: Diam.
Kita nggak omongin lagi kapan stadion rame. Kita omongin apakah stadion bakal rame lagi.
Dan jawabannya: mungkin nggak.
Model bisnis klub udah nyaman. Siaran lebih laku. Sponsor lebih happy tanpa risiko kericuhan. Stadion jadi mall. Museum. Tempat turis foto-foto.
Tapi bukan rumah.
Sepak bola tanpa penonton udah jadi kenyataan, bukan darurat. Itu sebabnya sunyi. Bukan karena nggak ada suara. Tapi karena kita tahu: ini bukan lagi sementara.
Yang Masih Bisa Dilakukan: Catatan Dari Orang Ngenes
Gue nggak punya solusi ajaib. Gue cuma suporter. Tapi beberapa hal kecil yang mungkin nahan kita dari gila:
1. Nonton Bareng Skala Kecil.
Bukan nobar gede. Tapi 3-5 orang di kosan. Matiin lampu. Nyalain sound keras. Buat ritual. Ini konyol, tapi ini yang kita punya.
2. Rekam Suara Kamu.
Ini aneh. Tapi gue mulai rekam suara gue sendiri waktu nonton. Teriak-teriak sendiri. Nanti gue dengerin ulang. Kedengeran tolol, iya. Tapi itu suara gue. Suara yang dulu tenggelam di 70 ribu orang, sekarang satu-satunya yang tersisa.
3. Cerita ke Adik atau Keponakan.
Kamu kakek-kakek sekarang. Ceritain ke mereka. “Dulu, pas bola masuk, semua orang lompat. Nggak kenal. Nggak peduli. Kita pelukan.”
Mereka mungkin cuma angguk. Tapi suatu hari mereka akan paham.
Jadi Sunyi Itu Apa?
Sunyi 2026 bukan diam. Masih ada siaran, masih ada gol, masih ada VAR yang bikin emosi.
Tapi sunyi adalah ketika jantung berdetak sendiri.
Sepak bola itu bukan tentang siapa yang menang. Sepak bola itu tentang 70 ribu orang yang bersamaan berhenti bernapas saat tendangan penalti. Lalu bersamaan juga tarik napas lega—atau ambruk.
Sepak bola tanpa penonton itu hati tanpa detak.
Masih berfungsi. Masih hidup.
Tapi nggak terasa hidup.